AgendaNewsPerspektifPustaka KalselRilis MediaUncategorized

Covid Membuat Kompetisi Politik Semakin Sportif

Situasi covid memukul mundur jadwal pelaksanaan pilkada tahun 2020 ini, dari September menjadi bulan Desember. Kondisi ini membuat banyak pihak resah, khususnya dalam pengamatan penulis akhir-akhir ini yang sedang ramai diperbincangkan oleh penyelenggara pemilu adalah soal “politisasi bansos.”

Politisi bansos ini khususnya menyoal petahana. Seperti yang dikatakan oleh Noorhalis Majid, Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Kalsel, “Bentuk politisasi tersebut adalah dengan menempel foto petahana pada sampul Bansos yang diberikan, baik pada karung beras, disinfektan, maupun bantuan lainnya. … Ini fenomena lama dan sangat merugikan perkembangan demokrasi politik kita.”

Padahal di luar konteks corona dan pilkada sekalipun, hal seperti ini sering kita kita lihat di ruang publik, seperti baliho milik pemerintah yang dipenuhi dengan foto wajah para pejabat. Dari ucapan selamat hari raya, sampai ucapan selamat berpuasa yang belum dicopot masih banyak kita lihat. Memang agaknya fenomena narsisme para pejabat publik sedang naik daun untuk menaikkan citra, seperti lagu Kekey Bukan Boneka.

Namun kondisi yang penuh iba di tengah wabah corona serta mendekati momen pilkada, membuat prilaku seperti ini menjadi lebih sensitif dan dapat menjadi perhatian publik. Bahkan jika boleh direka, sebagai masyarakat yang menerima bansos yang dipolitisasi akan dapat menilai seberapa tidak empatinya pejabat tersebut kepada rakyatnya. Apalagi jika foto yang ditempel memperlihatkan senyum sumringah dengan gigi yang berbaris rapat. Sungguh terlalu kata Rhoma Irama.

Pertaruhan Reputasi Petahana

Bukan hanya persoalan politisasi bansos. Kedatangan wabah Corona juga berdampak multidimensional. Terlebih pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB di daerah-daerah terdampak, misalnya di Banjarmasin. Pemerintah daerah Banjarmasin seperti kebingungan, tidak konsisten serta serba salah dalam menjalankan peraturan PSBBnya, sehingga tidak sedikit mendapat kritik dan penolakan di sana sini. Misalnya para pedagang pasar yang menolak tokonya ditutup karena berdalih pemerintah tidak adil dengan membiarkan pusat perbelanjaan seperti Mall masih beroperasi.

Persoalan seperti ini akan menjadi suatu catatan buruk bagi petahana jika mencalonkan diri kembali. Meskipun selama empat tahun ke belakang citra yang dibangun dengan keberhasilan program diet plastik, kota inklusi yang ramah disabilitas dan membangkitkan pariwisata berbasis sungai. Hal ini menjadi tidak berarti karena orang akan lebih mudah untuk digiring mengingat kejadian yang masih hangat apalagi bagi mereka yang terdampak. Layaknya nila setitik yang merusak susu sebelanga.

Sebagai warga yang peduli terhadap sebuah nilai dalam berpolitik. Maka saya menekankan bagi petahana yang tren citra dan reputasi kepemimpinannya menurun dalam penanganan Covid. Maka kawallah proses yang dikatakan “new normal” ini secara teliti, bangunlah narasi yang positif, penuh empati dan powerfull, serta temani rakyat dengan hati untuk membangun harapan hidup kembali.

Memang tidak semua petahana yang keok karena menghadapi covid. Bupati Boltim (Bolaan Mognondow Timur) menjadi salah satu yang bersinar, karena wataknya yang lugas dan berani dalam menghadapi carut-marut aturan dari pusat dalam menghadapi wabah corona. Keberaniannya ini dalam berbicara dan mengkritik pemerintah pusat mendapat perhatian banyak pihak, salah satunya saat Bupati Boltim berbicara di ILC (Indonesia Lawyers Club).

Berkah Bagi Kandidat Penantang

Beda pasal dengan kandidat penantang dalam pilkada tahun ini. Saya menyebutnya dalam beberapa diskusi daring sebagai berkah bagi para kandidat penantang apalagi saat mendengar pengunduran jadwal pilkada ini.

Betapa tidak, sebagai penantang sebenarnya bisa dikatakan kalah start dengan petahana kalau soal popularitas dan elektabilitas. Jika tidak ada corona. Namun hadirnya wabah ini di tengah jalan menuju pilkada, seperti Corona sedang menjelma menjadi seorang wasit yang adil dalam sebuah pertandingan. Corona menghadirkan tantangan yang lebih berat bagi petahana, dan memberikan waktu bernafas bagi penantang untuk mengatur strategi ulang dan mengobati kepedihan rakyat yang dilukai petahana karena corona. Inilah sisi sportifnya Corona.

Waktu yang relatif lebih panjang ini juga dapat dimanfaatkan oleh penantang untuk membangun personal brandingnya. Apalagi ditambah dengan perubahan perilaku masyarakat yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk beraktifitas di depan layar gawainya. Maka dengan kondisi ini, kandidat penantang seharusnya jeli untuk lebih aktif di media sosial dan berinteraksi dengan pengikutnya. Bahkan jika ingin memberikan bansos pun sebenarnya bisa dilakukan dengan cara yang lebih kreatif, misalkan dengan menjalanan Kuis dan Giveaway di media sosialnya. Agar tetap terjalin interaksi yang intens meskipun jarak memisahkan.

Bahkan dari info terbaru yang saya baca di media daring, bahwa kampanye akan dilakukan secara daring agar tidak mengumpulkan banyak massa. Begitu yang dikatakan Sarmuji, Ketua KPU Kalsel dalam media daring tersebut. Maka melakukan kampanye politik secara daring dan membangun personal branding melalui media sosial menjadi suatu kebutuhan, jika ingin menang pilkada jalur corona. (*)

Sirajuddin Kahfi (Kabid. Politik, Hukum, Kebijakan dan Advokasi GMI Kalsel)

 

 

0137
admin

You may also like

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Agenda